Artikel

Pemanfaatan Teknologi Pengindraan Jauh dalam Pembangunan Daerah

Pangkalpinang, 30 Juli 2020. Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peran pemerintah sebagai mobilisator pembangunan sangat strategis dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami pemekaran menjadi beberapa wilayah kota yang baru, maka diperlukan dukungan sarana dan prasarana wilayah yang memadai termasuk dukungan perluasan kawasan pelayanan.

Konsep tahap pertumbuhan memberikan gambaran bagaiamana wilayah berkembang secara evolutif secara bertahap. Bahasan mengenai tahap pertumbuhan pada umumnya mengacu kepada konsep yang diusulkan oleh Walt Rostow dan John Friedmann. Rostow (1960, dalam Jawoto Sih Setyono) melihat perkembangan wilayah akan terjadi dalam lima tahap: tradisional, prakondisi tinggal landas, tinggal landas, kematangan, dan konsumsi massa. Kemajuan dari satu tahap ke tahap lain dapat tertunda atau tidak tercapai secara mulus karena adanya variasi dalam beberapa faktor. Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) merupakan indikator dari perkembangan suatu kawasan/wilayah sehingga regulasi pemerintah dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Kemendagri Nomor 29 Tahun 2008 tentang Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Daerah agar dapat menjadi acuan atau arahan dalam mengambil keputusan dalam penentuan kawasan strategis khususnya Kawasan Strategis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pembangunan Kawasan Strategis Provinsi harus berlandaskan analisis baik analisis fisik (Daya dukung lahan) dan analisis non fisik (Daya tampung kawasan). Terkait analsis fisik diperlukan metode analsis spasial atau analisis berbasis Sistem Informasi Geospasial (SIG). Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan kerja sama dengan Instansi LAPAN (Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional) terkait pemenuhan data Spasial khususnya Citra Satelit.

Menurut Prof. Dr. Sutanto, pada dasarnya interpretasi citra terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu perekaman data dari citra dan penggunaan data tersebut untuk tujuan tertentu. Perekaman data dari citra berupa pengenalan objek dan unsur yang tergambar pada citra serta penyajiannya ke dalam bentuk tabel, grafik atau peta tematik. Urutan kegiatan dimulai dari menguraikan atau memisahkan objek yang rona atau warnanya berbeda dan selanjutnya ditarik garis batas/delineasi bagi objek yang rona dan warnanya sama.

Sistem penginderaan jauh atau foto udara dimulai dari perekaman objek permukaan bumi. Tenaga yang digunakan dalam penginderaan jauh untuk mengindera bumi adalah tenaga elektromagnetik. Tenaga elektromagnetik pada sistem pasif berasal dari matahari yang merambat melalui atmosfer, kemudian berinteraksi dengan benda di permukaan bumi. Tenaga radiasi matahari tidak semua sampai di permukaan bumi karena sebagian diserap dan dihamburkan ke atmosfer. Tenaga yang sampai ke permukaan bumi sebagian dipantulkan atau dipancarkann oleh permukaan bumi dan direkam oleh tekonologi sensor penginderaan jauh. Sensor untuk melakukan perekaman data memerlukan tenaga sebagai medianya. Sensor penginderaan jauh tersebut dapat dipasang dalam wahana pesawat terbang maupun satelit. Sensor satelit merekam permukaan bumi, kemudian mengirimkannya ke stasiun penerima data di bumi. Stasiun bumi menerima data permukaan bumi dari satelit dan direkam dalam pita magnetik dalam bentuk digital. Rekaman data diproses di laboratorium pengolah data hingga berbentuk citra penginderaan jauh dan didistribusikan ke berbagai pengguna.

Setiap objek yang diterima teknologi sensor akan dikenali berdasarkan karakteristik spasial dan atau unsur temporalnya. Objek yang telah dikenali jenisnya, kemudian diklasifikasikan sesuai dengan tujuan interpretasinya dan digambarkan ke dalam peta kerja atau peta sementara. Kemudian pekerjaan lapangan dilakukan untuk menjaga ketelitian dan kebenarannya. Setelah pekerjaan lapangan dilakukan, dilaksanakanlah interpretasi akhir dan pengkajian atas pola atau susunan keruangan (objek) dapat dipergunakan sesuai tujuannya. Sehingga dalam pengambilan keputusan untuk pembangunan di Daerah dapat maksimal dengan pemanfaatan teknologi Foto Udara (Drone) dan Citra Satelit.

 

Penulis: 
Inchan Kurniawan Hanif, S.Kom., MT
Sumber: 
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung